Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri berhasil mengamankan seorang anak berusia 14 tahun di Jepara, Jawa Tengah, yang diduga terpapar ideologi kekerasan ekstrem. Anak tersebut bahkan berencana menjadi pelopor aksi kekerasan di sekolahnya.
Simulasi Aksi Kekerasan
Juru Bicara Densus 88 Polri, Kombes Mayndra Eka, menjelaskan bahwa anak tersebut berencana mengunggah aksinya ke komunitas mereka. “Ada seorang anak yang juga ingin menjadi pelopor kekerasan di sekolah, kemudian ingin meng- upload juga di komunitas mereka dan ini bisa ditangani oleh Densus 88 bersama dengan Polda Jateng,” ujar Mayndra dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (7/1/2025).
Penemuan ini berawal pada Oktober 2025. Densus 88 menampilkan rekaman video yang menunjukkan anak tersebut memperagakan simulasi penggunaan senjata api dan melakukan penembakan di sekolah. “Jadi itu adalah adegan dari salah satu anak yang ada di Jawa Tengah, yang bersangkutan sebelum memulai aksi melakukan simulasi dulu untuk gambaran ya ketika melakukan aksi, yang bersangkutan bisa merencanakan,” jelasnya.
Koneksi Internasional dan Komunitas Ekstrem
Mayndra melanjutkan, anak tersebut ingin menjadi pelopor kekerasan atas nama komunitas true crime community (TCC). Meskipun Densus 88 telah melakukan intervensi, sang anak masih menunjukkan keinginan untuk melakukan tindakan kekerasan ekstrem. Ia bahkan pernah membawa pisau ke sekolah.
Lebih mengkhawatirkan, anak tersebut memiliki koneksi internasional. “Pernah membawa pisau ke sekolah dan memiliki koneksi internasional, terdeteksi dengan REDA yaitu pendiri kelompok BNTG di Prancis. Ini adalah gerakan nasionalisme etnis Barber berbasis daring dengan ideologi Third Positionist, berorientasi pada penyatuan identitas dan pembebasan politik etnis,” ungkap Mayndra.
Faktor Pemicu Paparan Ekstremisme pada Anak
Di sisi lain, Densus 88 mendeteksi 27 grup media sosial yang aktif menyebarkan paham ekstremisme. Grup-grup ini terungkap selama pendalaman pada periode 2025 hingga awal 2026.
Mayndra menyatakan bahwa faktor utama anak terpapar paham ekstremisme dan bergabung dengan komunitas kekerasan seringkali berasal dari masalah internal maupun lingkungan sosial. Beberapa faktor yang teridentifikasi antara lain:
- Korban perundungan di lingkungan masyarakat maupun sekolah.
- Anak dari keluarga broken home.
- Ketidakharmonisan dalam keluarga.
- Kurang perhatian dari orang tua.
- Kerap menyaksikan kekerasan di lingkungan sekitar.
“Jadi di sini mereka merasa memiliki rumah kedua karena di dalam komunitas ini aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya, bisa terjadi interaksi, dialog, dan saling memberikan rekomendasi atau masukan untuk menyelesaikan solusinya masing-masing, tentunya dengan kekerasan-kekerasan tersebut,” imbuh Mayndra.
Daftar Grup Ekstremisme yang Diikuti Anak di Bawah Umur:
- TCC Community
- True Crime Community
- TCCland Under Akmal
- Fuck TCC
- TCC
- WAG TCC Reborn
- WAG TCC Universe
- WAG Area TCC
- Tanah Suci TCC
- TCC Universe V2
- TCC Community
- TCC City Nueva Revolucion
- [tccland]
- FTCI Film True Crime Indonesia
- Indonesia Headhunter
- Meinchat
- Group Kasih Sayang
- Nuapf
- Medenist Brigade
- Legion Devision
- FSP-NB (80 member)
- AZW Ragebait
- Saranjana
- Medenism Under Boris
- Anarko Libertarian Maoist
- Army of Legion
- Have Sex With Your Gun






