Berita

Densus 88 Ungkap 70 Anak Terpapar Ideologi Kekerasan Ekstrem, Berencana Ledakkan Kelas

Advertisement

Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri mengungkap adanya 70 anak di Indonesia yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem. Temuan ini tersebar di 19 provinsi, dengan mayoritas berasal dari Pulau Jawa.

Juru Bicara Densus 88 Polri, Kombes Mayndra Eka, menjelaskan bahwa anak-anak tersebut tergabung dalam berbagai grup media sosial bernama True Crime Community (TCC). Di dalam grup ini, mereka terpapar ideologi kekerasan ekstrem seperti Neo-Nazi dan White Supremacy.

Mayndra mengungkapkan bahwa anak-anak ini memiliki niat untuk melakukan aksi kekerasan di lingkungan sekolah. “Dari interview yang dilakukan oleh penyelidik, kami menemukan bahwa anak-anak ini di dalam wilayah yang berbeda berencana untuk melakukan bunuh diri setelah meledakkan beberapa kelas,” kata Mayndra dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (7/1/2026).

Ia menambahkan, sasaran aksi kekerasan tersebut mencakup pembantaian guru dan sabotase CCTV. “Di sini disebutkan kelas 7, kelas 8, kelas 9. Lalu membantai guru, mensabotase CCTV. Sasaran aksinya adalah teman sekolah dan guru,” lanjutnya.

Advertisement

Dorongan untuk melakukan aksi kekerasan ini, menurut Mayndra, tak lepas dari komunikasi di dalam grup komunitas TCC. Di grup tersebut, para anggota diajari cara membuat alat peledak untuk mendukung aksi kekerasan mereka. “Mereka mengajarkan kepada para member group yang mereka miliki untuk membuat bom, salah satunya bom pipa. Mengajarkan kepada member group untuk membuat peluru. Ikut serta dalam pembicaraan bagaimana membuat pipa menjadi barang yang berbahaya dan mematikan,” jelas Mayndra.

Pada kesempatan yang sama, Mayndra menunjukkan video seorang anak yang merekam tutorial membuat bom pipa. Video tersebut kemudian disebar ke grup komunitasnya. “Ini salah satu anak yang kami temukan, yang bersangkutan membuat tutorial bagaimana membuat bom dalam bahasa Inggris yang di-upload ya, yang akan di-upload untuk komunitas internasionalnya,” tuturnya.

Selain itu, dari anak-anak tersebut ditemukan sejumlah barang bukti berupa bahan kimia untuk membuat bahan peledak dan perangkat elektronik. “Juga atribut-atribut yang bergenre kekerasan seperti Neo-Nazi, White Supremacy, dan lain-lain,” imbuh Mayndra.

Advertisement