Suara pukulan tiang listrik di malam hari menjadi penanda keamanan di beberapa permukiman Jakarta. Di Cengkareng, Jakarta Barat, tradisi ini menjadi isyarat sederhana bahwa petugas keamanan atau hansip sedang berpatroli, sekaligus penanda waktu.
Penanda Waktu dan Keamanan di Cengkareng
Ketua RT 011, Wagino (60), menjelaskan bahwa tradisi memukul tiang listrik ini biasanya dimulai sekitar pukul 01.00 WIB, disusul pukulan kedua pada pukul 02.00 WIB. Pukulan terakhir dilakukan menjelang Subuh, sekitar pukul 04.00 WIB. “Memukul tiang itu dari jam satu. Itu maknanya untuk mengetahui waktu dia keliling wilayah. Berikutnya nanti kalau dia keliling yang kedua itu sekitar jam dua. Itu nanti pukulannya juga mengikuti waktu yang dia pas keliling, jadi pukulannya dua kali. Itu nanti terakhir biasanya Subuh, jam empat,” kata Wagino kepada wartawan, Sabtu (10/1/2026).
Bagi warga yang masih terjaga, suara ini memberikan kepastian bahwa lingkungan mereka aman. “Kalau Subuh, pukulan empat kali itu warga sudah tahu, ‘oh ini sudah jam empat, waktunya salat Subuh’,” ujarnya.
Tradisi Puluhan Tahun yang Terus Bertahan
Tradisi ini, menurut Wagino, telah berjalan puluhan tahun. Ia sendiri telah tinggal di kawasan tersebut sejak 1993 dan suara pukulan tiang listrik sudah menjadi bagian dari malamnya warga. “Dari dulu sampai sekarang masih ada. Bedanya, sekarang kadang hansip keliling pakai sepeda, bel sepedanya dibunyikan, kring-kring-kring. Tapi maknanya sama,” katanya.
Petugas keamanan di tingkat RT dikelola oleh RW, dengan total tiga hansip yang bergantian berjaga. Kasus kemalingan di wilayah ini jarang terjadi. Wagino menceritakan pernah hansip memergoki sekelompok anak mencoba memanjat pagar rumah warga, yang kemudian diamankan berkat respons cepat hansip memukul tiang listrik lebih keras.
Wagino berharap tradisi ini terus dipertahankan, namun ia juga menilai perlu ada perhatian lebih dari pemerintah untuk menunjang tugas hansip, seperti dibekali alat komunikasi HT.
Rasa Aman bagi Warga
Nur (58), warga yang telah tinggal hampir 30 tahun, mengaku suara pukulan tiang listrik justru menghadirkan rasa aman. “Maknanya tanda ronda masih jalan. Jadi warga tahu hansip keliling, bukan tidur,” ujar Nur.
Meskipun banyak lingkungan kini dipasangi CCTV, Nur menilai bunyi pukulan tiang listrik memiliki efek berbeda. “Kalau orang mau niat jahat, jadi mikir dua kali. Karena tahu ada patroli, hansip,” katanya. Suara yang awalnya sempat mengganggu tidurnya kini justru menjadi penenang. “Kalau malam sunyi banget malah was-was. Begitu dengar bunyi itu, rasanya aman. ‘Oh, pak hansip masih keliling’,” ucapnya.
‘Alarm Versi Kampung’ di Cikoko
Di kawasan Cikoko, Pancoran, Jakarta Selatan, tradisi serupa juga dilakukan. Anwar (44), yang kerap bertugas ronda, menjelaskan bahwa bunyi tiang listrik berfungsi sebagai penanda jam. “Ya maknanya buat nandain jam,” kata Anwar.
Bagi pedagang yang jam kerjanya di malam hari atau dini hari, seperti tukang tempe dan tahu, suara ini membantu mereka agar tidak kesiangan berangkat ke pasar. Jika waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB, tiang listrik dipukul dua kali. Pukulan tiga kali dilakukan pada pukul 03.00 WIB. “Bangunin orang salat Subuh. (Alasan lainnya) takut yang jam 3 kita ketok (pedagang) belum bangun, kasihan kan dia udah nyetak tempe tapi kalau kesiangan nggak bisa kujual,” kata Anwar.
16 Tiang Listrik Dipukul Setiap Malam
Anwar mengaku memukul sekitar 16 tiang listrik di wilayah RW 05 Kelurahan Cikoko setiap malam. “Kalau untuk standarnya memang jam 2 dan jam 3, kalau jam 4 itu tergantung yang jaga. Sambil bangunin orang Subuh kalau jam 4. Yang pastinya jam 2 sama jam 3,” ujarnya.
Rutinitas pemukulan tiang listrik di wilayah tersebut sudah berlangsung sekitar 20 tahun. Anwar mengatakan patroli selalu dilakukan sebelum memukul tiang listrik. “Udah lama di sini, 20 tahunan ada,” ujarnya.






