Komika Pandji Pragiwaksono menegaskan tidak memiliki penyesalan sedikit pun terkait penayangan special show-nya yang bertajuk Mens Rea di Netflix, meskipun pertunjukan tersebut menuai beragam kritik dan bahkan laporan ke pihak kepolisian.
Komentar Kritis dan Dukungan
Pandji menyadari bahwa materi yang disajikannya dalam Mens Rea akan menimbulkan pro dan kontra. “Gue sudah tahu pasti akan ada yang suka dan akan ada yang tidak suka. Itu sangat biasa,” ujar Pandji dalam siaran langsung Instagramnya pada Sabtu (10/1/2026).
Ia menambahkan bahwa tujuannya membuat Mens Rea adalah agar dapat ditonton oleh sebanyak mungkin orang. “Karena dari gue bikin Mens Rea, gue bercita-cita supaya sebanyak-banyaknya orang yang nonton Mens Rea,” jelasnya.
Respons Terhadap Laporan Polisi
Meskipun Mens Rea kini dianggap sebagian pihak menjadi bumerang bagi Pandji, komika berusia 46 tahun itu mengaku tidak gentar. “Tapi gue sama sekali tidak menyesal. Gue bahkan happy, happy banget bahkan, sangat happy. Positifnya jauh lebih besar dari negatifnya,” tutur Pandji.
Sebelumnya, Pandji Pragiwaksono dilaporkan oleh Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) bersama Aliansi Muda Muhammadiyah ke Polda Metro Jaya pada Rabu (7/1/2026). Laporan tersebut terkait dugaan pencemaran nama baik melalui materi pertunjukan komedi Mens Rea.
Pelapor telah menyerahkan barang bukti berupa rekaman dan materi yang disampaikan Pandji melalui salah satu platform digital. Materi tersebut dinilai mengandung unsur yang merendahkan dan berpotensi menimbulkan kegaduhan di masyarakat.
Tentang Mens Rea
Mens Rea mulai tayang di Netflix sejak 27 Desember 2025 tanpa sensor dan dapat disaksikan secara penuh. Dalam pertunjukan ini, Pandji Pragiwaksono menggunakan panggung sebagai ruang untuk membahas berbagai isu sosial dan politik terkini dengan gaya observasi yang tajam dan berani.
Pandji menyoroti carut-marut perpolitikan pasca-Pemilu 2024, menguliti perilaku pejabat publik, hingga menyinggung sejumlah tokoh besar yang kerap dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Materi yang dibawakan dinilai relevan dengan kondisi demokrasi Indonesia, dibalut komedi satire yang tidak hanya mengundang tawa, tetapi juga mengajak penonton berpikir.






