Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyoroti dampak bencana alam di Sumatera yang telah menyengsarakan masyarakat. Menurutnya, bencana tersebut turut dipicu oleh regulasi yang dinilai memberikan kemudahan bagi perusak lingkungan.
Kebijakan Lemahkan Perlindungan Lingkungan
“Kita harus berani jujur. Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan. Undang-undang dan regulasi yang memberi karpet merah pada konsesi besar telah membuka jalan bagi deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem,” ujar Megawati saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP di Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).
Pidato Megawati yang disampaikan secara tertutup tersebut kemudian dibagikan kepada wartawan dan diizinkan untuk dikutip oleh juru bicara PDIP, Guntur Romli.
Megawati juga mengkritik pengalihan fungsi lahan yang dilakukan atas nama pembangunan. Ia menilai, dalih pembangunan tersebut justru mencerminkan potret pembangunan yang tidak berkeadilan.
“Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban,” tegas Megawati.
Bencana Sumatera Akibat Eksploitasi Alam
Presiden ke-5 Republik Indonesia ini meyakini bahwa bencana yang terjadi di Sumatera bukanlah semata-mata kehendak alam, melainkan akibat ulah tangan manusia.
“Kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, sebagai spons alam penyerap air, telah berubah menjadi ladang eksploitasi. Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis,” ungkap Megawati.
Akibatnya, lanjut Megawati, ketika hujan turun, air tidak lagi terserap dengan baik. Air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi kekuatan penghancur.
“Ia menghantam hilir, menyapu pemukiman, lahan pertanian, dan kehidupan rakyat kecil yang bahkan tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan,” imbuhnya.
Krisis Peradaban Ekologis
Megawati memandang bencana di Sumatera sebagai cerminan dari krisis peradaban ekologis, di mana manusia cenderung menempatkan diri sebagai penguasa alam.
“Inilah krisis peradaban ekologis, ketika manusia menempatkan dirinya sebagai penguasa alam, bukan sebagai bagian dari kesatuan kehidupan,” pungkasnya.






