Diskursus mengenai awal bulan Ramadan 1447 Hijriah mengemuka setelah Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 18 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada kajian ilmiah mendalam.
Penjelasan Pakar Ilmu Falak Muhammadiyah
Pakar Ilmu Falak dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, memberikan penjelasan terkait alasan di balik penetapan tersebut. Penjelasannya dimuat di laman Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (OIF UMSU).
Arwin menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah mengeluarkan penjelasan resmi pada 27 Muharam 1447 Hijriah atau 22 Juli 2025 Masehi. Penjelasan tersebut mengoreksi awal Ramadan 1447 H yang sebelumnya tercantum dalam kalender cetak Muhammadiyah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, menjadi Rabu, 18 Februari 2026.
Koreksi ini dilakukan setelah melalui kajian ilmiah yang mendalam dan diskusi intensif, termasuk dengan para ahli teknologi informasi dan pengembang perangkat lunak hisab. Menurut Arwin, penyesuaian ini bertujuan menjaga akurasi ilmiah, integritas keilmuan, dan konsistensi prinsip dalam penentuan waktu ibadah.
Dinamika Internal dan Perbedaan dengan Diyanet Turki
Arwin mengakui adanya dinamika internal dalam proses ini yang berlangsung alot dan masih menjadi bagian dari pengembangan ilmiah berkelanjutan. Muhammadiyah juga menyadari bahwa keputusan ini akan berbeda dengan Diyanet Turki yang menetapkan awal Ramadan 1447 H pada 19 Februari 2026.
Parameter Penetapan 1 Ramadan 1447 H
Penetapan 18 Februari 2026 didasarkan pada penerapan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Parameter ini merujuk pada kriteria hasil Muktamar Turki 2016, yaitu ketinggian hilal minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat, serta syarat ijtimak.
“Dalam kasus Ramadan 1447 H, parameter ijtimak sebelum pukul 24.00 UTC di wilayah manapun di dunia memang belum terpenuhi. Namun, parameter lanjutan, yakni ijtima’ sebelum fajar di Selandia Baru serta keterpenuhan kriteria 5-8 derajat di daratan benua Amerika, telah terpenuhi,” demikian keterangan yang dikutip dari situs PP Muhammadiyah, Kamis (8/1/2026).
Kajian Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menunjukkan sejumlah wilayah di Semenanjung Alaska dan sekitarnya memenuhi parameter tersebut. Wilayah ini secara administratif merupakan bagian dari Amerika Serikat dan secara geografis masih termasuk daratan benua Amerika.
Atas dasar tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026 secara global.
Simak juga Video: Utang Puasa Belum Lunas tapi Sudah Ramadhan Lagi, Harus Gimana?
[Gambas:Video 20detik]






