Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menegaskan posisi partainya sebagai kekuatan penyeimbang pemerintah. Menurutnya, sikap ini bukan sekadar netralitas atau abu-abu, melainkan sebuah keputusan ideologis yang diambil secara sadar dan bertanggung jawab.
Keputusan Ideologis sebagai Kekuatan Penyeimbang
Pernyataan ini disampaikan Megawati dalam pidatonya pada penutupan Rapat Koordinasi Nasional (Rakernas) I PDIP di Ancol, Jakarta Utara, Senin (12/1/2026). Ia menjelaskan bahwa peran sebagai kekuatan penyeimbang kekuasaan negara merupakan pilihan strategis partainya.
“Kita secara sadar dan bertanggung jawab memilih posisi sebagai kekuatan penyeimbang kekuasaan negara. Ini bukan sikap netral. Ini bukan posisi abu-abu. Ini adalah keputusan ideologis,” ujar Megawati.
Peran Penyeimbang sebagai Pengabdian Politik
Megawati menekankan bahwa peran penyeimbang bukanlah sikap negatif atau destruktif, melainkan bentuk pengabdian politik. PDIP, menurutnya, akan mendukung setiap kebijakan negara yang berpihak kepada rakyat, menjamin keadilan sosial, memperkuat kedaulatan nasional, serta menjaga kelestarian lingkungan hidup.
“Kita mendukung setiap kebijakan negara yang berpihak kepada rakyat, yang menjamin keadilan sosial, memperkuat kedaulatan nasional, serta menjaga kelestarian lingkungan hidup,” jelas Megawati.
Namun, Megawati juga menegaskan kewajiban historis dan konstitusional partainya untuk mengoreksi dan menentang kebijakan yang bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Pemerintah Objek Kritik Kebijakan, Bukan Musuh Personal
Dalam sistem demokrasi, Megawati mengingatkan bahwa pemerintahan bukanlah musuh personal, melainkan objek kritik kebijakan yang sah. Ia berpesan kepada seluruh kader PDIP untuk tidak bersikap reaktif dan destruktif.
“Kita tidak bertujuan menciptakan instabilitas, tetapi juga tidak akan membiarkan stabilitas dibangun dengan mengorbankan demokrasi, keadilan sosial, keadilan ekologis, dan kedaulatan rakyat,” tegas Megawati.
Ia menegaskan kembali bahwa PDIP harus tampil sebagai kekuatan penyeimbang yang ideologis, bukan sekadar oposisi.






