Jakarta – Bau menyengat dari tumpukan sampah yang menggunung di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, dikeluhkan warga dan pedagang. Penumpukan ini diduga akibat berkurangnya armada truk pengangkut sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Pantauan di lokasi pada Jumat (9/1/2026) pagi, gunungan sampah terlihat cukup tinggi hingga setengah tiang lampu jalan di bagian belakang pasar. Tembok pembatas antara pasar dengan permukiman warga bahkan tampak jebol, menyebabkan sampah berjatuhan ke arah permukiman.
Sejumlah alat berat, termasuk truk pengangkut dan eskavator, telah dikerahkan untuk mengangkut sampah tersebut.
Sampah Menumpuk Sejak November 2025
Manajer Pasar Induk Kramat Jati, Agus Lamun, menyatakan bahwa tumpukan sampah ini sudah terjadi sejak November 2025. “Jadi memang penumpukan ini terjadi satu bulan belakangan ya. Kira-kira itu di bulan November dan Desember,” kata Agus di Pasar Induk Kramat Jati, Jaktim, Jumat (9/1/2026).
Agus menjelaskan salah satu penyebab utama adalah berkurangnya armada truk dari DLH. Jika biasanya ada 15 truk yang dikerahkan, kini hanya tujuh hingga delapan truk yang beroperasi. “Nah, oleh karenanya, terjadi deposit sampah,” sebut Agus.
Aktivitas Pasar Hasilkan 150 Ton Sampah Organik
Aktivitas pedagang di Pasar Induk Kramat Jati berlangsung 24 jam setiap hari, menghasilkan sekitar 120 hingga 150 ton sampah organik per hari. Agus menambahkan, sampah organik ini cepat membusuk jika tidak segera diangkut.
“Inilah kemudian yang menyebabkan ketidaknyamanan karena bau. Ya, yang dirasakan oleh baik para pedagang maupun masyarakat yang ada di sekitar,” tutur Agus.
Pengelola pasar terus berkoordinasi dengan DLH untuk mengatasi masalah ini. Agus mengapresiasi bantuan armada yang lebih besar dari DLH untuk mengatasi penumpukan sampah.
Target Pengangkutan dalam Lima Hari
Agus menargetkan tumpukan sampah ini dapat terangkut seluruhnya dalam lima hari ke depan. Ia menyebutkan, pada hari Kamis (8/1/2026), sudah ada 25 armada yang melakukan 31 ritase pengangkutan.
“Kalau konsistensi 25 armada ini, maka bisa dipastikan lima hari ke depan, maka penumpukan sampah ini akan sudah terlihat lebih menyusut dan lebih mantap,” kata Agus.
Pedagang Mengeluh Sepi Pembeli dan Omzet Merosot
Para pedagang Pasar Induk Kramat Jati mengeluhkan sepinya pembeli akibat bau busuk dari tumpukan sampah. Hal ini menyebabkan omzet mereka merosot drastis.
“Mengganggu. Dari aroma dari tumpukan sampah. Jadi yang belanja sepi, kan (pembeli) enggak mau parkir di sini. Jadi milih parkir di depan. Kan aromanya kan berasa. Pengurangan (pendapatan) bisa 40 persenan lah,” kata Hanif, salah satu pedagang, Jumat (9/1).
Hanif menambahkan, tumpukan sampah ini sudah berlangsung sekitar empat hingga lima bulan. Ia berharap ada pengangkutan sampah minimal tiga kali seminggu, namun belakangan ini tidak ada armada yang datang.
Gangguan Kesehatan Akibat Sampah
Selain penurunan omzet, para pedagang juga mengalami gangguan kesehatan. Sejumlah pedagang terpaksa menggunakan masker untuk mengurangi paparan bau.
“Kita aja di sini juga dari kesehatan pasti ganggu. Iya lah (jadi sakit), batuk-batuk susah napas gitu. Kerasa tiap hari di sini, tiap hari, dagangnya kerasa. Kemarin kita pakai masker, begitu dikeruk kan dia aromanya ngangkat lagi gini. Jadi di, apa ya, aroma juga ngaruh,” tutur Hanif.
Gubernur DKI Minta Segera Diselesaikan
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah meminta Pasar Jaya untuk segera menyelesaikan persoalan tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati.
“Jadi saya sudah meminta kepada Pasar Jaya, Bapak Dirut, untuk segera menyelesaikan itu. Segera untuk diselesaikan,” kata Pramono usai meninjau Puskesmas Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (9/1).
Pramono menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta telah menambah pengadaan truk sampah lebih dari 100 unit pada tahun 2025. “Kemarin kita sudah mengadakan truk tambahan hampir 100 truk lebih di tahun 2025 kemarin,” ucapnya.
“Ya untuk Bantargebang, untuk Rorotan, dan termasuk untuk yang, apa, di Kramat Jati. Nggak ada alasan untuk tidak ditangani,” lanjutnya.






