Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto menceritakan keseruan ajang Liga Desa yang diselenggarakan kementeriannya dalam rangka memperingati Hari Desa Nasional. Ajang ini ternyata diwarnai protes terkait praktik naturalisasi pemain.
Proses Liga Desa dan Aturan Main
Liga Desa telah bergulir sejak dua bulan lalu, dimulai dari Desa Banyubiru, Kabupaten Semarang. Turnamen ini diikuti oleh ribuan desa di Jawa Tengah, dengan total 7.800 desa yang berpartisipasi. Format kompetisi dimulai dari tingkat kecamatan, di mana juara antar-kecamatan dalam satu kabupaten akan bertanding. Selanjutnya, para juara kabupaten akan dibagi dalam empat grup untuk memperebutkan tiket ke babak final.
Para pemain yang berlaga dalam Liga Desa dikarantina di Asrama Haji Boyolali, Jawa Tengah, untuk mempersiapkan diri menuju babak final yang dijadwalkan berlangsung hari ini.
Protes Naturalisasi Pemain Lokal
Di tengah keseruan kompetisi, Yandri mengungkapkan adanya masalah terkait naturalisasi pemain. Ia mengaku telah mengantisipasi hal ini sejak awal dengan mengeluarkan aturan tegas. “Saya bilang dari sebelum Liga Desa ini bergulir, tolong karena ini Liga Desa murni orang desa setempat, tidak boleh naturalisasi, pemain bayaran atau pemain cabutan istilah mereka,” ujar Yandri saat berbincang dengan detikcom, Selasa (13/1/2026).
Kecurangan ini terungkap saat memasuki laga antar-kabupaten. Yandri menjelaskan bahwa naturalisasi yang dimaksud bukanlah pemain asing seperti di tim nasional, melainkan pemain yang tidak berasal dari desa yang diwakilinya namun bermain untuk desa tersebut. Para pemain ini bahkan sampai mengubah Kartu Tanda Penduduk (KTP) agar terlihat sebagai warga asli desa.
“Melakukan naturalisasi dengan mengubah KTP. Jadi di bulan Desember itu mereka banyak yang pindah ke desa itu, pemain-pemain top tadi, sehingga diprotes sama pihak lawan,” ungkap Yandri.
Menanggapi protes tersebut, Yandri menegaskan sikap tegasnya. “Mereka telepon saya, panitia gimana nih Pak Menteri? (Yandri jawab) ah coret, ini kalau dibiarkan berbahaya untuk ke depan,” katanya.
Membangun Nasionalisme dan Kejujuran
Yandri menekankan bahwa tujuan utama Liga Desa adalah untuk membangun nasionalisme dan silaturahmi antarwarga desa. Namun, ia juga menegaskan pentingnya disiplin dan kejujuran dalam setiap pertandingan. “Jadi kita sebenarnya Liga Desa ini membangun nasionalisme, membangun silaturahmi, tapi perlu juga membangun disiplin dan kejujuran. Jangan sampai ada akal-akalan. Jadi sekarang Liga Desa seru,” imbuhnya.
Untuk mencegah terulangnya kecurangan serupa, Kementerian Desa PDTT bekerja sama dengan pihak kepolisian dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) dalam pengawasan Liga Desa.






