Berita

Mendagri Tito Karnavian Lontarkan Candaan Soal ‘Ngambek’ Menkeu Purbaya

Advertisement

Rapat Koordinasi Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana di Aceh diwarnai gelak tawa ketika Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melontarkan candaan mengenai potensi bahaya jika Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ‘ngambek’. Rakor yang digelar pada Sabtu (10/1/2026) ini awalnya dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, sebelum akhirnya diambil alih oleh Tito selaku Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.

Pembentukan Satgas Percepatan Rehabilitasi

Dalam kesempatan tersebut, Tito menjelaskan mengenai tugas utama satgas yang baru saja menerima Keputusan Presiden (Keppres) pada 9 Januari 2026, yang ditetapkan sehari sebelumnya. “Tugasnya paling utama satgas ini adalah mempercepat rehabilitasi-rekonstruksi pascabencana. Tapi kita bekerja di tengah situasi yang masih ada tanggap darurat,” ujar Tito.

Tito merinci susunan satgas yang terdiri dari tim pengarah dan tim pelaksana. Tim pengarah diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), dengan anggota seluruh Menko, Panglima TNI, dan Kapolri. Sementara itu, tim pelaksana diketuai oleh Menteri Dalam Negeri sendiri, dengan empat wakil ketua.

Keempat wakil ketua tim pelaksana tersebut adalah Kasum TNI Letjen Richard Tarigan Tampubolon, Kepala BNPB Suharyanto, Komandan Brimob Polri Komjen Ramdani, serta Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara Rosan Roeslani. Satgas ini juga mencakup bidang-bidang seperti Penyusunan Rencana Induk, Penyediaan Lahan, hingga Pengelolaan Data.

Kelakar ‘Ngambek’ Purbaya

Di tengah penjelasan tersebut, Tito tiba-tiba teringat belum menyebutkan nama Purbaya Yudhi Sadewa dalam jajaran tim pengarah. “Sedangkan untuk infrastruktur, saya ulangi, ada yang terlewat tim pengarah, selain Menko, Panglima TNI, Kapolri, juga di situ ada Bapak Purbaya, ha-ha…” kata Tito, yang disambut tawa peserta rapat.

Advertisement

Ia kemudian melanjutkan kelakarnya, “Saya lupa menyampaikan ini, kualat ini kalau nggak, nanti ini, karena kalau beliau ngambek, beliau ngambek, kita chat mau rapat sampai malam juga percuma juga kita nanti. Iya, nggak ada pitinya, ha-ha…” candanya.

Respons Purbaya Yudhi Sadewa

Menanggapi candaan Tito, Purbaya Yudhi Sadewa merespons dengan gaya santai khasnya. “Seperti biasa, Pak, saya hanya bagian akhir, cuma hitung-hitung duit. Saya di sini, sama Pak Tito kalau nggak disebut namanya, ngambek katanya,” ujar Purbaya.

Ia menambahkan, “Oke, Pak, jadi saya mesti balas. Kalau nggak disebut nama, ngambek. Saya ngambek kalau uangnya sudah disediain pakai utang, nggak dipakai juga.” Pernyataan Purbaya ini berhasil mencairkan suasana rapat.

Purbaya mengungkapkan kekecewaannya jika uang yang telah dikumpulkan melalui pajak dan bea cukai tidak dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana. “Jadi saya kumpulin uang banyak, gebuk-gebuk orang pajak, bea cukai ditumpuk di sana, nggak dipakai. Padahal di sini bencananya masih susah masyarakatnya. Itu saja, Pak,” pungkasnya.

Advertisement