Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (YQC) dan mantan staf khususnya, Ishfah Abidal Aziz (IAA) alias Gus Alex, sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait pembagian kuota haji tahun 2024. KPK menyatakan bahwa proses penahanan terhadap kedua tersangka akan segera dilakukan.
Penahanan Segera Dilakukan
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menyampaikan bahwa pihaknya akan terus memberikan pembaruan mengenai perkembangan penahanan. “Terkait penahanan nanti kami akan update. Tentu secepatnya, karena KPK tentu juga ingin agar proses penyidikan bisa berjalan efektif,” ujar Budi di gedung KPK, Jakarta Selatan, pada Jumat (9/1/2026).
Kedua tersangka dijerat dengan pasal yang menyebabkan kerugian negara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Namun, Budi menjelaskan bahwa Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) masih dalam proses melakukan kalkulasi untuk menentukan besaran kerugian negara yang timbul akibat perkara ini.
“BPK saat ini masih terus melakukan kalkulasi untuk menghitung besaran nilai kerugian keuangan negara yang ditimbulkan dari perkara ini,” jelas Budi.
Latar Belakang Kasus
Sebelumnya, Gus Yaqut dan Gus Alex telah menjalani pemeriksaan oleh KPK dalam kapasitas mereka sebagai saksi. Keduanya juga telah dicegah untuk bepergian ke luar negeri sebelum statusnya ditingkatkan menjadi tersangka.
Kasus dugaan korupsi yang diusut oleh KPK ini berkaitan dengan pembagian tambahan kuota haji sebanyak 20.000 jemaah untuk tahun 2024, yang diperoleh Indonesia melalui lobi Presiden saat itu, Joko Widodo (Jokowi), kepada Arab Saudi. Lobi ini dilakukan untuk mengurangi masa tunggu jemaah haji reguler Indonesia yang bisa mencapai lebih dari 20 tahun.
Kuota tambahan tersebut kemudian dibagi oleh Kementerian Agama yang dipimpin oleh Yaqut, dengan alokasi 10.000 untuk haji reguler dan 10.000 untuk haji khusus. Padahal, Undang-Undang Haji mengatur bahwa kuota haji khusus hanya sebesar 8 persen dari total kuota haji Indonesia.
Akibat kebijakan tersebut, pada tahun 2024, Indonesia menggunakan kuota 213.320 untuk jemaah haji reguler dan 27.680 untuk jemaah haji khusus. KPK menyatakan bahwa kebijakan era Yaqut tersebut menyebabkan sekitar 8.400 jemaah haji reguler yang telah mengantre lebih dari 14 tahun dan seharusnya dapat berangkat pada tahun 2024, justru gagal diberangkatkan.
KPK menyebutkan adanya dugaan awal kerugian negara mencapai Rp 1 triliun dalam kasus ini. Sejumlah aset, termasuk rumah, mobil, dan uang dalam mata uang dolar, telah disita oleh KPK terkait dengan penanganan kasus ini.






