Sebanyak 73 kepala keluarga (KK) yang sebelumnya menghuni Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kebon Nanas, Jakarta Timur, kini telah direlokasi ke sejumlah rumah susun (rusun) milik Pemprov DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa warga yang direlokasi akan mendapatkan keringanan berupa gratis sewa rusun selama enam bulan, sementara bagi lansia, fasilitas ini berlaku seumur hidup.
Pengembalian Fungsi Lahan dan Kemanusiaan
Relokasi ini dilakukan sebagai upaya pengembalian fungsi TPU Kebon Nanas yang daya tampungnya telah habis. Dari total 80 TPU di Jakarta, 69 di antaranya sudah penuh dan memerlukan pemakaman tumpang tindih. “Kebon Nanas ini sebenarnya sudah tidak bisa lagi. Dengan pengembalian fungsi lahan ini, nantinya bisa menampung kurang lebih 1.000 makam baru,” jelas Pramono.
Pramono menekankan aspek kemanusiaan dari program relokasi ini. Ia berharap warga dapat menjalani kehidupan yang lebih layak dan manusiawi di rusun. “Bagaimanapun, kalau tempat tinggalnya lebih layak, anak-anaknya bisa sekolah lebih baik, interaksi sosial juga lebih baik,” ujarnya.
Pemprov DKI tidak hanya memindahkan warga, tetapi juga memberikan pendampingan sosial dan ekonomi. Selama masa adaptasi, warga dibebaskan dari biaya sewa rusun untuk membantu mereka menata kembali kehidupan dan mata pencaharian. Selain itu, jajaran Pemprov juga akan membantu warga yang berhak mendapatkan Kartu Jakarta Pintar (KJP) serta fasilitas transportasi gratis bagi lansia.
Bantuan Bertahap dan Fasilitas Rusun
Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, menambahkan bahwa proses relokasi warga TPU Kebon Nanas telah berlangsung secara bertahap sejak 6 Januari 2026. Ke-73 KK tersebut ditempatkan di enam rusun, yaitu Rusun Pulo Gebang, Cipinang Muara, Cipinang Besar Selatan, Jatinegara Barat, Jatinegara Kaum, dan Pondok Bambu.
Selain hunian, Pemkot Jakarta Timur juga memberikan bantuan kepada warga relokasi berupa modal usaha Rp 500 ribu, paket kebutuhan dasar, hygiene kit, dan kasur. “Pasca-relokasi, lahan TPU akan dimatangkan kembali agar siap menjalankan fungsi pelayanan pemakaman bagi warga Jakarta,” imbuh Munjirin.
Pengalaman Warga di Rusun
Setelah pindah ke rusun, warga mengaku dapat menjalani hidup dengan lebih layak. Salah seorang warga menceritakan pengalamannya melihat penampakan saat masih tinggal di TPU Kebon Nanas. “Kayak kuntilanak, Pak,” jawabnya saat ditanya Pramono mengenai bentuk penampakan yang pernah dilihatnya. Ia mengaku tidak merasa takut karena sudah terbiasa setelah bertahun-tahun tinggal di sana.
Warga lainnya, Guntur, yang telah tinggal di TPU Kebon Nanas selama 17 tahun, menyatakan kenyamanannya di rusun baru. “Dulu ya nyaman-nyaman aja, sudah biasa. Tapi kalau sekarang kan lebih manusiawi, Pak,” katanya. Ia membandingkan fasilitas di rusun yang jauh lebih lengkap, seperti playground, jogging track, masjid, lapangan futsal, dan taman.






