Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan tidak memerlukan hukum internasional dalam menjalankan kebijakannya yang kerap menjadi sorotan global. Pernyataan ini memicu analisis mendalam dari pengamat hubungan internasional mengenai alasan di balik sikap Trump.
Analisis Pengamat Hubungan Internasional
Pengamat Hubungan Internasional, Teuku Rezasyah, menganalisis bahwa sikap Trump berakar pada persepsinya terhadap peran PBB. “PBB, terutama sekali Dewan Keamanan PBB, telah lama dikendalikan AS. PBB akan garang pada negara yang dikritik AS dan mendiamkan praktik-praktik pelanggaran yang dilakukan negara-negara yang direstui AS,” ujar Rezasyah kepada wartawan pada Minggu (11/1/2026).
Menurut Rezasyah, kepemimpinan Trump telah menjadikan Amerika Serikat sebagai musuh bersama bagi banyak negara. Ia menegaskan bahwa Trump telah melanggar Piagam PBB. “Saat ini Amerika sedang bingung karena dipimpin oleh seorang Presiden Donald Trump yang sangat percaya diri. Presiden ini dengan sangat beraninya melanggar hukum nasional yang mensyaratkan persetujuan Kongres Amerika Serikat yang mengatur pelaksanaan luar negeri serta hukum internasional yang mengatur tata kelola internasional. Sangat jelas Presiden Donald Trump telah melanggar Piagam PBB,” ungkapnya.
Dampak Kebijakan Trump terhadap Keamanan Regional
Dosen Hubungan Internasional President University ini menambahkan bahwa Trump menjadikan Amerika Serikat sebagai ancaman bagi negara-negara lain. Ia menyoroti langkah Trump yang menahan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. “Dengan menyerang Venezuela, menculik Presiden Maduro serta memaksakan aturan dari Amerika Serikat atas Venezuela, AS telah menjadikan dirinya sebagai perusak demokrasi, sekaligus mengancam keamanan di kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Karibia,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rezasyah mengemukakan bahwa rencana Trump untuk mengambil alih Greenland dari Denmark berpotensi merusak sinergi NATO. Tindakan tersebut dinilai dapat mengurangi kredibilitas NATO di hadapan Rusia dan China. “Lebih jauh lagi, dengan mengancam menguasai Greenland, AS telah merusak sinergi dan kekompakan dalam NATO. Sekaligus pula berpotensi mengurangi harga diri NATO dihadapan Rusia dan China. NATO mulai mengeropos pada masa Donald Trump,” kata Rezasyah.
Rezasyah memperkirakan Amerika Serikat akan mengincar negara-negara kaya energi lainnya di berbagai belahan dunia. Negara-negara lain mulai mengantisipasi skenario terburuk mengingat dampak serangan AS atas Venezuela dan potensi ekspansi ke Kanada dan Meksiko. “Keadaan ini sangat menakutkan,” tambahnya.
Pernyataan Trump kepada New York Times
Pernyataan Trump mengenai hukum internasional ini disampaikan dalam wawancara dengan media terkemuka AS, New York Times (NYT), yang dirilis pada Rabu (7/1/2026), seperti dilansir Anadolu Agency dan Japan Times pada Jumat (9/1/2026).
Ketika ditanya oleh NYT mengenai batasan kekuasaannya sebagai Presiden AS, Trump menjawab, “Iya, ada satu hal. Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Itu satu-satunya hal yang dapat menghentikan saya.” Pada kesempatan yang sama, Trump menegaskan, “Saya tidak membutuhkan hukum internasional.” Meskipun demikian, ia juga menambahkan, “Saya tidak berniat menyakiti orang-orang.” Ketika didesak lebih lanjut oleh NYT soal kepatuhan pemerintahannya terhadap hukum internasional, Trump menjawab, “Iya perlu.”






