Istilah child grooming kembali mencuat ke permukaan publik setelah aktris Aurelie Moeremans meluncurkan buku memoar berjudul Broken Strings. Buku yang ditulis dalam dwibahasa, Indonesia dan Inggris, ini menceritakan pengalaman pahit Aurelie menjadi korban grooming sejak usia 15 tahun, saat ia baru menapaki dunia hiburan Tanah Air.
Kisah Kelam di Balik Gemerlap Dunia Hiburan
Aurelie Moeremans, yang saat itu baru memasuki dunia entertainment Indonesia, bertemu dengan orang-orang dewasa yang kemudian ia sadari melakukan praktik grooming, termasuk pelecehan dan pemerkosaan. Ia baru menyadari hal tersebut setelah beranjak dewasa, karena pelaku menggunakan cara yang halus dan manipulatif saat Aurelie masih remaja. Pengalaman traumatis ini dituangkan dalam buku setebal kurang lebih 200 halaman, yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan publik terhadap praktik child grooming.
Memahami Konsep Child Grooming
Berbeda dengan makna umum grooming yang berkaitan dengan perawatan hewan peliharaan atau penampilan diri, child grooming merujuk pada pelecehan terhadap anak. Dikutip dari laman Pemerintah Kanada, grooming dalam konteks anak di bawah umur adalah tindakan seorang dewasa yang membangun kepercayaan dengan anak, dan terkadang orang di sekitarnya, demi mendapatkan akses dan kontrol. Kontrol ini seringkali dilakukan dengan menormalisasikan perilaku atau ekspektasi tertentu.
Dampak Psikologis Grooming pada Korban
Psikolog klinis Arnold Lukito menjelaskan bahwa korban grooming dapat mengalami ketergantungan emosional yang tidak sehat. “Artinya si anak ini, ya. Artinya kan dia juga, dalam tanda putih, sebenarnya dikontrol dan dimanipulasi. Nah, itu kan akhirnya membuat juga banyak hal seperti, dia mungkin jadi punya ketergantungan emosional yang tidak sehat, gitu kan,” ujar Arnold, dikutip dari 20detik, Selasa (13/1/2026).
Lebih lanjut, Arnold menambahkan bahwa grooming dapat memengaruhi identitas diri korban, membuat mereka berpikir bahwa hubungan dengan orang yang jauh lebih tua adalah hal yang mungkin. Selain itu, korban seringkali dibebani rasa bersalah dan malu yang mendalam, yang dapat meninggalkan luka psikologis jangka panjang.
Ciri-Ciri Child Grooming yang Perlu Diwaspadai
Menurut studi perlindungan anak yang dirujuk oleh NSPCC dan peneliti seperti Michael Seto serta Ethel Quayle, satu tanda saja belum tentu berarti grooming. Namun, jika muncul berulang dan saling berkaitan, hal tersebut bisa menjadi sinyal penting. Ciri-ciri pelaku meliputi:
- Memberikan perhatian berlebihan sejak awal, seperti pujian terus-menerus, hadiah, atau sikap sangat peduli meskipun baru kenal.
- Mengaku sebagai teman sebaya atau menciptakan hubungan yang terasa spesial dan eksklusif.
- Berupaya menjauhkan anak dari keluarga atau teman, misalnya dengan mengajak menyimpan rahasia.
- Menguji batas melalui candaan atau topik yang tidak pantas, dilakukan secara perlahan agar terlihat normal.
Sementara itu, tanda-tanda anak mengalami grooming menurut National Society for the Prevention of Cruelty to Children antara lain:
- Perubahan perilaku yang tiba-tiba, seperti menghabiskan lebih banyak atau malah lebih sedikit waktu daring.
- Menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah atau menghilang dari rumah/sekolah.
- Bersikap tertutup mengenai aktivitas mereka, termasuk saat menggunakan perangkat daring.
- Menerima hadiah yang tidak dapat dijelaskan, baik besar maupun kecil.
- Menyalahgunakan alkohol dan/atau narkoba.
- Memiliki persahabatan atau hubungan dengan orang yang jauh lebih tua.
- Mengalami masalah kesehatan seksual.
- Menggunakan bahasa seksual yang tidak lazim bagi orang tua.
- Tampak sedih atau menarik diri.
- Mengalami masalah kesehatan mental.
Pembahasan mendalam mengenai topik ini dapat disaksikan dalam program detikPagi edisi Rabu (14/1/2026).






