• Jum. Apr 4th, 2025

Pabrik Smelter di Gresik Mulai Produksi Emas hingga 60 Ton per Tahun

Pabrik Smelter di Gresik Mulai Produksi Emas hingga 60 Ton per Tahun

Jakarta, CNBC Indonesia – Fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) raksasa di Gresik, Jawa Timur, yang dimiliki oleh PT Freeport Indonesia (PTFI), akan segera memulai produksi emas pada bulan November 2024. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi emas yang mengesankan, yakni mencapai 50-60 ton per tahun. Fasilitas ini merupakan bagian dari smelter tembaga yang terletak di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik.

Produksi emas tersebut berasal dari Precious Metal Refinery (PMR) yang diintegrasikan ke dalam fasilitas smelter tembaga PTFI. Sebelumnya, smelter ini telah berhasil memulai produksi katoda tembaga perdana pada 23 September 2024, menjadikannya salah satu smelter tembaga terbesar di dunia dengan kapasitas pengolahan konsentrat tembaga sebesar 1,7 juta ton per tahun.

Produksi Emas dan Katoda Tembaga

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia mengungkapkan bahwa produksi emas dari pabrik ini akan dimulai pada akhir bulan Oktober atau awal bulan November 2024. Tony juga menyebut bahwa sebagian besar emas yang diproduksi oleh PTFI akan dibeli oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dengan perkiraan pembelian mencapai 20 ton emas per tahun.

baca juga: Ukuran Pasar Semikonduktor Wide Bandgap Global adalah USD 470,00 Juta pada tahun 2023, laporan ini mencakup pertumbuhan Pasar, tren, peluang dan perkiraan 2024-2030

“Emasnya sudah ada pembicaraan dengan Antam. Antam akan beli, tapi nggak semuanya, hanya sebagian saja, kira-kira 20 ton. Ini sudah dalam tahap MoU (Nota Kesepahaman). Jadi Antam akan menyerap sekitar 20 ton, sisanya akan kita distribusikan ke beberapa tempat lain,” jelas Tony.

Selain emas, smelter ini juga memproduksi katoda tembaga dalam skala besar. Produksi perdana katoda tembaga dari smelter baru ini telah dimulai pada akhir September 2024. Smelter ini merupakan bagian dari strategi PTFI untuk meningkatkan kapasitas produksi tembaga nasional. Smelter yang terletak di JIIPE, Gresik, merupakan smelter single line terbesar di dunia dengan target produksi katoda tembaga sebesar 600.000 hingga 700.000 ton per tahun.

Menurut Tony, smelter tersebut sudah mulai beroperasi secara bertahap, dan PTFI menargetkan kapasitas penuh untuk produksi katoda tembaga akan tercapai pada Januari 2025. “Kita sudah mulai produksi dan secara bertahap akan kita tingkatkan sampai Desember 2024. Sehingga pada Januari 2025, kita akan mencapai kapasitas penuh,” ujar Tony.

Investasi dan Peran Smelter Gresik

Pabrik pemurnian yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia ini menempati lahan seluas 104 hektar dengan total investasi mencapai US$ 3,7 miliar atau sekitar Rp 58 triliun. Smelter ini menjadi bagian dari inisiatif pemerintah Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, dan meningkatkan industri hilir.

Selain emas, pabrik ini juga memproduksi perak dan tembaga dalam jumlah yang signifikan. Dengan kapasitas pemurnian total 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun dari dua fasilitas smelter PTFI, pabrik ini mampu menghasilkan sekitar 1 juta ton katoda tembaga, 50 ton emas, dan 200 ton perak setiap tahunnya. Pabrik ini juga bekerja sama dengan PT Hailiang Group, sebuah perusahaan yang akan membangun pabrik foil tembaga di kawasan yang sama, untuk menyerap sekitar 100 ribu ton katoda tembaga yang diproduksi oleh PTFI.

Pada peresmian produksi katoda tembaga perdana yang digelar pada 23 September 2024, Presiden Joko Widodo turut hadir menyaksikan. Dalam acara tersebut, Jokowi menekankan pentingnya hilirisasi industri tambang bagi ekonomi Indonesia. Smelter PTFI di JIIPE Gresik diharapkan menjadi penggerak utama dalam mendukung kebijakan tersebut, sekaligus memperkuat industri pertambangan dan manufaktur dalam negeri.

Kerja Sama dengan Antam dan Distribusi Emas

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), sebagai salah satu perusahaan pengelola tambang milik negara, telah menandatangani MoU untuk membeli sebagian dari emas yang diproduksi oleh PTFI. Antam akan menyerap sekitar 20 ton emas dari total produksi tahunan yang mencapai 50-60 ton. Sisanya akan didistribusikan ke pasar domestik dan internasional melalui jalur distribusi yang telah disepakati PTFI.

Tony Wenas menambahkan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari strategi PTFI untuk mengoptimalkan distribusi logam mulia yang dihasilkan oleh fasilitas mereka. “Kita sudah membangun kerja sama yang solid dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Emas yang dihasilkan oleh pabrik ini akan memainkan peran penting dalam pasar logam mulia global,” tambahnya.

Potensi Ekonomi dan Masa Depan Smelter

Dengan kapasitas produksi yang besar dan investasi yang signifikan, smelter PTFI di Gresik diprediksi akan memberikan dampak ekonomi yang besar bagi Indonesia, terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja dan peningkatan penerimaan negara dari sektor pertambangan. Selain itu, smelter ini juga akan membantu memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen tembaga dan emas terkemuka di dunia.

Keberhasilan proyek ini juga sejalan dengan visi pemerintah untuk meningkatkan hilirisasi dan mengurangi ekspor bahan mentah. Smelter ini diharapkan dapat beroperasi pada kapasitas penuh pada awal 2025, membawa Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dalam industri pertambangan global.