• Kam. Apr 3rd, 2025
Debat Pilgub Jakarta 2024 Dinilai Monoton, Minim Adu Gagasan Antara Tiga Paslon

Jakarta, CNN Indonesia — Debat perdana Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta 2024 yang digelar pada Minggu (6/10) di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, menuai berbagai tanggapan kritis dari para pengamat politik. Debat yang mempertemukan tiga pasangan calon, yakni Ridwan Kamil-Suswono, Dharma Pongrekun-Kun Wardana, dan Pramono Anung-Rano Karno, dinilai tidak menunjukkan dinamika adu gagasan yang tajam seperti yang terjadi pada Pilgub 2017.

Arifki Chaniago, Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, dalam keterangannya kepada CNNIndonesia.com, menyebutkan bahwa debat kali ini terasa turun kasta jika dibandingkan dengan Pilgub 2017. Pada saat itu, suasana debat antara Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan Agus Harimurti Yudhoyono dipenuhi dengan perdebatan tajam dan intens. Namun, pada Pilgub 2024 ini, Arifki melihat ketiga pasangan calon tidak memberikan adu argumen yang signifikan.

Debat yang Berubah Menjadi Monolog

Salah satu kritik yang muncul adalah kecenderungan para pasangan calon untuk tidak menanggapi secara langsung gagasan lawan. Sebaliknya, mereka memilih untuk terus mempresentasikan program mereka sendiri. Misalnya, ketika giliran Suswono berbicara sebagai wakil dari pasangan Ridwan Kamil, alih-alih menanggapi program lawan, ia lebih memilih untuk mengulang program-program yang telah disampaikan sebelumnya.

baca juga: Menjelajahi Dinamika Pasar Sensor 3D: Tren Global dan Prospek Pertumbuhan Masa Depan (2024 – 2031) yang dibahas dalam 102 halaman.

Menurut Agung Baskoro, Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, minimnya serangan antar pasangan calon ini menimbulkan kesan bahwa debat lebih seperti ajang monolog daripada adu argumen yang substantif. “Tidak ada serangan balik atau kritik yang tajam terhadap gagasan lawan. Padahal, di debat politik, inilah yang biasanya diharapkan untuk menggugah pemilih dan menguji kekuatan serta kelemahan gagasan para kandidat,” ujarnya.

Minimnya Oposisi dan Ketidakhadiran Petahana

Salah satu faktor yang disoroti oleh pengamat politik adalah ketidakhadiran petahana dalam kontestasi Pilgub Jakarta 2024. Hal ini, menurut Agung Baskoro, turut mempengaruhi dinamika debat. Tanpa adanya petahana yang biasanya menjadi target serangan dan kritik, para calon gubernur dan wakil gubernur cenderung bermain aman, menghindari konfrontasi langsung.

“Tidak adanya petahana membuat para kandidat tidak merasa perlu mempertahankan atau menyerang gagasan yang ada,” jelas Agung. Dalam Pilgub sebelumnya, petahana sering kali menjadi sasaran utama kritik dan perdebatan tajam. Namun, kali ini, dengan tidak adanya pihak yang menonjolkan diri sebagai oposisi, suasana debat terasa lebih dingin.

Selain itu, keterkaitan beberapa pasangan calon dengan lingkaran kekuasaan saat ini juga disinyalir menjadi faktor yang memengaruhi suasana debat. Ridwan Kamil, yang diusung oleh KIM Plus (Koalisi Indonesia Maju Plus), dan Pramono Anung dari PDIP, dinilai tidak ingin terlalu berkonfrontasi karena posisi politik mereka yang masih belum jelas dalam pemerintahan mendatang.

Kandidat Independen yang Tidak Menonjol

Dharma Pongrekun, yang maju bersama Kun Wardana sebagai calon independen, juga dinilai tidak memberikan perbedaan mencolok dalam debat kali ini. Meskipun mereka berasal dari jalur independen, keterkaitan Dharma dengan kepolisian dan kedekatan mereka dengan lingkaran kekuasaan membuat pasangan ini tampak kurang berbeda dibandingkan dua paslon lainnya.

Arifki Chaniago menambahkan bahwa situasi politik saat ini, dengan PDIP yang sedang dalam pembicaraan untuk bergabung dengan pemerintahan Prabowo-Gibran, turut memengaruhi nada debat. “Dengan adanya spekulasi bahwa PDIP mungkin akan bergabung dengan pemerintahan Prabowo-Gibran, ini membuat debat Pilgub Jakarta terasa lebih soft, tanpa perdebatan keras antar kandidat,” jelas Arifki.

Dinamika Politik dan Debat Berikutnya

Kritik terhadap debat pertama ini menyoroti pentingnya adu gagasan yang kuat dalam kontestasi politik, terutama dalam pemilihan gubernur Jakarta yang merupakan barometer politik nasional. Namun, dengan ketiga pasangan calon yang tampak berhati-hati dalam bersikap, banyak pengamat memprediksi bahwa debat-debat selanjutnya juga akan berlangsung dengan dinamika yang serupa.

Arifki memprediksi bahwa gaya debat yang minim serangan ini kemungkinan besar akan terus berlanjut hingga akhir masa kampanye. “Jika dari awal para kandidat tidak menunjukkan intensi untuk berdebat secara tajam, maka kecil kemungkinan kita akan melihat perubahan yang signifikan di debat-debat selanjutnya,” katanya.

Harapan dari Publik

Di sisi lain, publik berharap bahwa pada debat-debat berikutnya, ketiga pasangan calon akan lebih berani menguji gagasan satu sama lain. Sebagai pemilih, masyarakat Jakarta tentunya ingin melihat pemimpin yang tidak hanya mampu memaparkan program, tetapi juga siap untuk mempertahankan gagasannya di hadapan lawan.

Meskipun begitu, dengan ketiga pasangan calon yang memiliki keterkaitan dengan lingkar kekuasaan saat ini, masih menjadi tanda tanya apakah suasana debat akan berubah atau tetap berlangsung seperti ajang presentasi program-program pribadi.

Debat yang Kurang Dinamis

Debat pertama Pilgub Jakarta 2024 meninggalkan kesan yang kurang dinamis dibandingkan Pilgub sebelumnya. Tanpa petahana dan minimnya adu gagasan antara pasangan calon, debat ini lebih banyak diisi dengan monolog ketimbang pertarungan ide yang diharapkan oleh publik. Dengan beberapa debat tersisa, tantangan bagi para kandidat adalah bagaimana membawa debat ke arah yang lebih hidup, penuh dengan dinamika dan perdebatan yang substansial.