Jakarta – Batik, sebagai warisan kekayaan budaya Indonesia, telah memainkan peran penting tidak hanya dalam acara-acara nasional tetapi juga dalam diplomasi internasional. Keunikan motif dan makna filosofis batik menjadikannya simbol identitas nasional yang semakin dikenal luas di berbagai belahan dunia. Hal ini ditegaskan dalam acara Talk Show Industrial Festival 2024 dengan tema “Batik on Diplomacy: Batik dalam Diplomasi Internasional”, yang diselenggarakan di Jakarta pada Kamis (3/9).
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Eko SA Cahyanto, menyampaikan pentingnya peran batik dalam memperkenalkan Indonesia di kancah internasional. Menurutnya, batik tidak hanya digunakan dalam acara-acara formal, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari diplomasi budaya yang memainkan peran strategis dalam berbagai forum kenegaraan.
“Bagi saya, batik itu sudah seperti bagian dari diri saya. Sejak dulu, sebelum batik ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, saya sudah sering memakainya. Tidak pernah ada momen yang salah ketika memakai batik, bahkan dalam pertemuan resmi dengan negara lain,” ujar Eko dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/10).
Batik dan Perannya dalam Diplomasi Internasional
Batik telah menjadi bagian penting dari soft diplomacy Indonesia, terutama dalam pertemuan-pertemuan kenegaraan. Eko mengungkapkan bahwa saat Indonesia menduduki Presidensi G20 pada tahun 2022, batik sering kali menjadi topik pembicaraan yang mencairkan suasana pertemuan. “Batik sering kali menjadi ‘ice breaker’ dalam pertemuan internasional. Sebagai perwakilan Indonesia, kami perlu memahami betul makna dan filosofi di balik motif batik yang kami kenakan,” tambahnya.
Selain itu, batik juga sering dijadikan cendera mata untuk tamu-tamu kenegaraan. Mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, adalah salah satu tokoh dunia yang jatuh cinta pada batik setelah menerima hadiah berupa kain batik dan buku tentang filosofi batik. Contoh ini menunjukkan bagaimana batik dapat menjadi jembatan dalam hubungan diplomatik antarnegara.
Baca Juga: Wawasan Pasar Strategis: Menavigasi Lanskap Pasar Fluorofor Biologis Global (2024 – 2031)
Industri Batik: Industri Padat Karya yang Terus Berkembang
Industri batik adalah salah satu sektor padat karya di Indonesia yang mampu menyerap hingga 200 ribu tenaga kerja. Proses pembuatan batik tidaklah sederhana; mulai dari desain motif hingga proses pewarnaan yang kompleks membutuhkan keahlian khusus. “Proses pembuatan batik itu sangat panjang dan rumit. Dibutuhkan waktu yang cukup lama, dari mulai menciptakan motif hingga tahapan pewarnaan dan pengeringan,” jelas Eko.
Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan industri batik melalui berbagai program. “Kami memiliki satuan kerja di berbagai daerah yang fokus pada pengembangan bahan kain serta teknologi pembatikan. Salah satu inovasi terbaru kami adalah pengembangan canting elektrik, yang mempermudah penggunaan malam (lilin batik) agar lebih stabil,” paparnya.
Inovasi dalam teknologi pembatikan ini tidak hanya membantu meningkatkan kualitas batik, tetapi juga mempercepat proses produksi sehingga dapat bersaing di pasar global. Namun, Eko juga menegaskan pentingnya menjaga keaslian batik, terutama dalam menghadapi tantangan dari produk tekstil bermotif batik yang dibuat secara massal di pabrik-pabrik.
“Dalam klasifikasi komoditas tekstil, ada yang disebut tekstil motif batik, yang diproduksi secara massal di pabrik. Harganya memang lebih murah, tetapi ini yang perlu kita batasi importasinya, karena produk tersebut bukan batik tulis asli,” tegas Eko.
Upaya Pelestarian Batik di Kalangan Masyarakat dan Generasi Muda
Peran masyarakat dalam melestarikan batik juga sangat penting. Batik tidak lagi hanya digunakan pada acara formal, tetapi telah menjadi bagian dari fesyen yang diminati oleh generasi muda. Beragam inovasi motif dan desain batik modern membuat kain tradisional ini semakin relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Kementerian Perindustrian juga terus menyosialisasikan kepada masyarakat tentang apa yang benar-benar dimaksud dengan batik tulis. “Kami sering mendapati konsumen yang lebih memilih produk yang lebih murah tanpa memahami perbedaan antara batik tulis dan tekstil motif batik. Edukasi tentang hal ini masih menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama,” ujar Eko.
Selain itu, Kemenperin juga menerbitkan sebuah buku berjudul ‘Batik Berkelanjutan: Rantai Pasok Industri 4.0’. Buku ini disusun oleh tim penulis dari berbagai latar belakang dan merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam mendukung perkembangan industri batik secara berkelanjutan.
Batik sebagai Simbol Identitas Nasional dan Diplomasi
Batik tidak hanya berfungsi sebagai simbol budaya, tetapi juga menjadi alat diplomasi yang efektif dalam memperkenalkan Indonesia di mata dunia. Lista Damayanti Djani, salah satu narasumber dalam acara tersebut, yang pernah menjabat sebagai Dharma Wanita Persatuan di Perwakilan Tetap RI di New York dan Jenewa, menegaskan bahwa selain digunakan dalam pertemuan kenegaraan, batik juga sering dijadikan cendera mata yang disertai dengan buku-buku tentang filosofi batik.
“Batik adalah identitas kita. Banyak tokoh dunia yang tertarik dengan batik setelah mereka memahami makna di balik motifnya. Ini menunjukkan bagaimana budaya dapat memainkan peran penting dalam diplomasi,” ujar Lista.
Masa Depan Batik dalam Diplomasi dan Industri
Dalam peringatan Hari Batik Nasional ini, batik kembali ditegaskan sebagai simbol penting dalam identitas nasional dan diplomasi internasional. Dengan terus mendorong pengembangan industri batik melalui inovasi teknologi dan menjaga keaslian batik tulis, diharapkan batik akan semakin dikenal di dunia dan mampu bersaing di pasar global.
Industrial Festival yang menjadi bagian dari rangkaian acara Hari Batik Nasional, juga menjadi sarana untuk mendekatkan industri batik kepada masyarakat luas, termasuk para generasi muda. Batik bukan sekadar kain tradisional, tetapi juga simbol kebanggaan nasional yang kini semakin menonjol dalam kancah internasional.