• Sab. Apr 5th, 2025

Inflasi di China Melambat pada September 2024, Konsumsi Masyarakat Masih Lemah

ByNisa Fitri

Okt 14, 2024
Inflasi di China Melambat pada September 2024, Konsumsi Masyarakat Masih Lemah

Jakarta, CNN Indonesia – Inflasi di China mengalami perlambatan pada September 2024, menunjukkan masih rapuhnya permintaan konsumen di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Berdasarkan data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional China, Indeks Harga Konsumen (IHK) hanya naik sebesar 0,4 persen secara tahunan (yoy) pada bulan September, lebih rendah dibandingkan bulan Agustus yang mencatatkan kenaikan 0,6 persen.

Penurunan inflasi ini juga di bawah ekspektasi para ekonom yang disurvei oleh Bloomberg, yang memperkirakan IHK akan meningkat sebesar 0,6 persen. Melambatnya inflasi terjadi di tengah upaya pemerintah China untuk menggenjot aktivitas ekonomi domestik serta menstabilkan sektor properti yang sedang terpuruk.

Stimulus Fiskal dan Penurunan Suku Bunga

Pada Sabtu, 12 Oktober 2024, pemerintah China baru saja mengumumkan rencana pemberian paket stimulus fiskal terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Menteri Keuangan China menjelaskan bahwa paket stimulus tersebut dirancang untuk memperkuat perbankan dan menopang pasar properti yang sedang mengalami tekanan besar, serta mengurangi beban utang pemerintah daerah.

Selain itu, bank-bank besar di China juga berjanji akan menurunkan suku bunga hipotek mulai 25 Oktober mendatang, sebagai langkah untuk mendorong pembelian properti dan meningkatkan permintaan domestik yang lemah. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengatasi krisis yang melanda sektor properti China selama bertahun-tahun dan merangsang konsumsi masyarakat yang hingga kini masih lesu.

baca juga: Ukuran Pasar Sound Conditioners tumbuh pada CAGR sebesar 12,50%, laporan ini mencakup analisis berdasarkan Jenis, segmentasi, pertumbuhan dan perkiraan 2024-2030

Tantangan di Sektor Properti dan Konsumsi

China telah berjuang selama bertahun-tahun menghadapi krisis sektor properti yang berimbas luas pada perekonomian secara keseluruhan. Konsumsi masyarakat, salah satu penopang utama ekonomi, juga masih berada di level rendah, mencerminkan ketidakpercayaan konsumen terhadap stabilitas ekonomi jangka pendek.

Krisis ini diperparah dengan tingginya angka pengangguran di kalangan pemuda, yang semakin mempersulit pemulihan ekonomi. Para ahli menilai, meskipun pemerintah China optimis bahwa target pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar lima persen masih dapat tercapai, kondisi sektor properti dan rendahnya konsumsi menjadi hambatan besar yang harus segera diatasi.

Deflasi dan Tantangan Ekonomi

Di sisi lain, Biro Statistik Nasional China juga melaporkan bahwa harga di tingkat pabrik, yang diukur melalui Indeks Harga Produsen (PPI), turun sebesar 2,8 persen secara tahunan. Penurunan ini memperpanjang periode deflasi yang telah berlangsung sejak akhir tahun 2022.

Deflasi di China kontras dengan situasi ekonomi di negara-negara Barat yang justru menghadapi inflasi tinggi. Pada akhir 2023, China bahkan mencatat deflasi selama empat bulan berturut-turut, dengan kontraksi harga konsumen terbesar dalam 14 tahun terakhir pada Januari 2024. Namun, pemerintah China tetap menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tahunan mereka masih dalam target yang telah ditetapkan, meski tantangan deflasi dan sektor properti menjadi hambatan signifikan.

Upaya Pemulihan Ekonomi

Selain langkah stimulus fiskal dan penurunan suku bunga hipotek, pemerintah China juga berencana menerbitkan obligasi khusus untuk memperkuat sektor perbankan dan menstabilkan pasar properti. Obligasi ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas di pasar keuangan dan memberikan dukungan pada perusahaan-perusahaan properti yang saat ini kesulitan memenuhi kewajiban finansial mereka.

Meskipun pemerintah optimis dengan langkah-langkah ini, banyak analis yang memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi China akan berjalan lambat. Masalah struktural di sektor properti, tingginya tingkat pengangguran di kalangan anak muda, serta lemahnya konsumsi domestik merupakan tantangan besar yang harus dihadapi pemerintah dalam waktu dekat.

Kesimpulan

China menghadapi tantangan ekonomi yang kompleks, mulai dari perlambatan inflasi, krisis sektor properti, hingga deflasi di sektor manufaktur. Meskipun pemerintah telah mengambil berbagai langkah, seperti stimulus fiskal dan penurunan suku bunga, masih ada kekhawatiran mengenai efektivitas langkah-langkah ini dalam mendorong pemulihan ekonomi secara berkelanjutan.

Sementara itu, Biro Statistik Nasional China menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar lima persen tetap dalam jangkauan, meskipun tantangan yang dihadapi tampaknya masih jauh dari selesai.