Perlu Peran Semua Tokoh dan Keterbukaan

0
483

“Kita semua tentu tidak mengingini  dalam situasi konflik. Siapapun kita, dari agama apapun kita, golongan apapun dan bahkan suku apapun”.

Pandi Ahmat, Fasilitator Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia

Perkenalkan, saya Pandi Ahmat, salah satu pemuda Penajam Paser Utara (PPU) yang mewakafkan diri secara aktif dalam kegiatan-kegiatan yang bernuansa keberagaman dan menyebarkan nilai-nilai perdamaian. Adapun, baru sekitar 5 hari yang lalu saya mengikuti Youth Queer Faith & Sexuality Camp ke-6 yang diselenggarakan Yifos Indonesia di Provinsi Jawa Timur dan Sumatera Utara.

Diskursus camp ini sendiri berbicara pada tatanan keberagaman Iman dan Seksualitas. Namun, ragam identitas lain, status ekonomi dan ragam suku juga beberapa kali disebutkan dalam camp ini. Tujuan dari camp ini tentu saja, menyebarkan nilai-nilai perdamaian dan merayakan keberagaman untuk kemudian diterapkan dalam berkehidupan bermasyarakat.

Berbicara tentang kerusuhan Sosial yang Secara Teori Dapat Terjadi dan Bagaimana Menanggulanginya.

Saya rasa sebagai manusia yang sama-sama merdeka, kita semua seppakat, “Kita semua tidak mengingini hidup dalam situasi konflik yang horor dan penuh teror. Siapapun kita, dari agama apapun kita, golongan apapun dan bahkan suku apapun.”

Seperti yang saya sebutkan di atas, potensi kerusuhan sosial entah mengatasnamakan apapun akan selalu ada di masa depan. Seperti yang dikatakan Puthut Ea dalam tulisannya yang berjudul “Apakah Kerusuhan sosial bisa terjadi lagi di Indonesia?”. Ya, konflik bisa terjadi di masa depan. Bukan berarti kami mengamini, tetapi begitulah memang adanya.

Secara teoritis, konflik memang dapat terjadi tergantung ada atau tidaknya syarat terjadinya konflik. Dalam hal ini, secara historis Kalimantan secara menyeluruh beberapa kali telah mengalami konflik. Di Kalimantan Barat ada konflik Sambas, Kalimantan Tengah ada konflik Sampit, dan di beberapa wilayah Kalimantan lain yang tidak bisa disebut satu per satu.

Sekali lagi secara teoritis konflik di masa yang akan datang bisa terjadi tergantung pada ada dan tidaknya syarat konflik. Termasuk dalam hal ini wilayah Kabupaten PPU.

Selain itu, konflik sosial akan selalu ada dan terus tumbuh. Termasuk pertikaian politik, menguatnya ketegangan antar dua komunitas atau lebih dan bahkan kesenjangan ekonomi. Gema permusuhan itu begitu terasa dalam kehidupan sehari-hari di dunia nyata, lebih-lebih di sosial media. Dengan alasan-alasan di atas, kita harus sadar bahwa potensi-potensi terjadinya konflik di masa depan pasti ada.

Hanya, kita sebagai masyarakat, khususnya masyarakat PPU pasti tidak mengingini hal itu terjadi. Kita sebagai masyarakat yang mencintai perdamaian dan kasih pasti dan akan selalu punya cara untuk menyelesaikan konflik yang terjadi, bahkan juga mencegah konflik itu terjadi. Adapun ada beberapa cara yang bisa ditempuh dalam rangka mencegah konflik itu terjadi, diantaranya:

Pertama, masyarakat atau lembaga atau komunitas yang berkecimpung dalam isu-isu keberagaman mesti membuka ruang-ruang dialog yang kemudian mempertemukan anak semua bangsa dalam rangka menggugurkan prasangka-prasangka yang menimbulkan kebencian dan menumbuhkan kedekatan emosional diantara komunitas masyarakat yang ada.

Kedua, elit politik dan tokoh masyarakat dari berbagai organisasi masyarakat harus sering bertemu, mendinginkan ketegangan atau situasi yang terjadi ditengah masyarakat dan menyusun agenda sosial bersama dalam rangka menunjukkan kepada masyarakat bahwa semua baik-baik saja.

Elit politik atau tokoh masyarakat yang sadar pentingnya kolaborasi di antara mereka dan ruang-ruang dialog/bertemu antar komunitas yang semakin banyak di masyarakat, khususnya masyarakat Penajam Paser Utara.

Kita semua pasti tidak mengingini peristiwa pembakaran ini akan terjadi lagi, Di mana banyak anak kecil yang kemudian merasakan ketakutan dan tentu saja meninggalkan trauma mendalam bagi para korban.
Akan tetapi, teman-teman semua harus menyadari bahwa kekecewaan serta keinginan di atas tidak akan bisa tertanggulangi dan terjadi tanpa adanya tindakan nyata dari kita semua.

Persis seperti apa yang dikatakan oleh Siddharta Gautama (Sang Buddha, Red) yang saya tambahkan sedikit tentang mewujudkan perdamaian itu sendiri bahwa, “Yang lebih baik dari seribu omong kosong adalah satu TINDAKAN yang membawa perdamaian”.

Pandi Ahmat,
Salah satu Fasilitator Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia, Barista dikala senggang di Warjam Rest-Orasi dan seorang Kakanda yang acapkali senang Bercerita. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here