Setelah 12 Hari, Tim Penangan Karhutla Giripurwa dan Petung Ditarik Mundur

0
331

HARIANPPU.ONLINE,PENAJAM- Setelah 12 hari proses penangan dan pendinginan Kebakaran Hutan dan Lahan, di area lahan gambut RT 03 Desa Giripurwa dan RT 11 & 12 Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Jumat malam (20/9/2019), personil tim gabungan BPBD PPU, TNI/Polri, Manggala Agni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, PT. Fajar Fajar Surya Swadaya, PT Kebun Mandiri Sejahter (KMS) serta Dinas Pertanian akhirnya resmi ditarik mundur.

Pasalnya dikatakan Kasubid Logistik dan Peralatan BPBD PPU, Nurlaila, pasca 12 hari proses penangan dan pendinginan Karhutlah di area tersebut, terbilang sudah dapat dikendalikan meski tercatat sekitar 110 Ha lahan yang terbakar.

“Hari ini terakhir penanganan , selama 12 hari pasca kebakaran pasukan Tim gabungan kami tarik,” kata Nurlaila.

Selain itu lanjut dijelaskannya, di Kabupaten PPU sendiri, saat ini tercatat ada sekitar 58 kejadian dengan luas area yang terbakar 268 Ha lebih, dimana dari 58 kejadian Karhutla paling banyak di Kecamatan Penajam dengan jumlah 52 titik kejadian, Kecamatan Waru 2 titik kejadian, Kecamatan Babulu 2 titik kejadian dan Kecamatan Sepaku 2 titik Kejadian, dan area Desa Giripurwa dan Petung terbesar dengan jumlah 110 Ha.

“Sampai hari ini, data kami yang masuk sebanyak 58 titik dengan mayoritas terjadi di Kecamatan Penajam sebanyak 52 titik Karhutlah,” jelasnya.

Lanjut Nurlalila, kejadian Karhutla di PPU diperkirakan akibat faktor kebiasaan masyarakat membuka lahan dengan cara dibakar sejak jaman dahulu. Tetapi sekarang dijelaskannya tidak bisa seperti jaman dahulu jika membuka lahan harus dibakar karena ada namanya dampak lingkungan salah satunya kabut asap yang menyebar kemana-mana yang bisa menggangu kesehatan masyarakat dan juga berpengaruh besar untuk penerbangan.

“Masalah Karhutla harus disosialisasikan langsung kebawah mulai dari tingkat RT, Lurah Kepala Desa dan lain-lain, semua unsur harus terlibat dalam melakukan mitigasi Karhutla minimal harus diminimalisir karena Karhutla ini cukup menguras waktu, tenaga dan biaya dan yang paling penting kesehatan petugas dilapangan,”pungkasnya.

Repoter : Hamaruddin

Editor     : Riadi Saputra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here